Sabtu, 01 Oktober 2011

NEKO=EXTRATERESTRIAL [N=E] Chapp 02

Chapp 02
Author : Tanoshii ジゥキ
Fandom : the Gazette (Aoru). Alice Nine. Kra
Genre : Fluff, smut, mbingungi(?)
Part(s) : IDK
Ongaku : Hageshisato kono mune no naka de karamitsuita shakunetsu no yami, RED SOIL – DIR en GREY /maka dari itu jadi ga konsen ngetiknya, sibuk headbanging
ADORE - lynch.
Note buat Hiju-sen : Ini ideku asli sen (masih galau kalo ff ini dibilang mirip ama punya temen LOL). Gue ga bo’ong, soalnya bo’ong pan dosa dan dilarang agama /prek
Note lagi : Smutnya mungkin kurang gimanaaa gitu, soalnya daku sudah setengah tobat jadi ga berani bikin yang level dewa, gomen readersku sayang ! 
Disclaimer : Storyline punya saya. Kalo idenya mirip maap ya

OTANOSHIIMI NI ♥ ♥ ♥





Ugh …” Aoi mengerang perlahan, kelopak matanya tetap lengket walaupun otaknya mulai meneriakinya untuk bangun. Bangun sekali lagi hari ini. Bersama pria itu lagi. Pria yang ia jamah untuk pertama kali dalam sejarah cinta hidupnya. Ia raba pinggang Uruha dan menatap kedua matanya yang terpejam dan basah oleh aliran air mata. Semua terasa begitu aneh… Terkadang di hari yang sama, peristiwa-peristiwa yang sama sekali tak terduga terjadi begitu saja.
Aku… Aku baru tau. Kalau kucing bisa menangis…” gumam Aoi dengan volume suaranya yang paling rendah seraya mengusap rambut coklat tembaga milik si kucing yang tengah tertidur lelap.

=== flashback ===

A-Aoi~~ yamero…” lenguh Uruha, suaranya begitu lemah tak berdaya sesuai dengan kondisinya.
Hmm ? Aku tak bisa mendengarmu, Uruha…” jawab Aoi dengan nada menggoda.
Nyaaan~ demo…”
Nani, ore no neko ?” kata Aoi seraya menjilati dada putih Uruha dan memainkan ujung lidahnya yang runcing di nipple kiri-nya. Hingga cukup membuat pria berambut honey-blonde itu bergidik geli dan mendesah sebentar. Setelah itu belingsatan mencari celah keluar dari kungkungan neraka(???) Aoi. Namun cengkeraman kuat Aoi begitu menguasai kedua pergelangan tangannya yang tertahan di samping kepalanya. Sama sekali tak ada ruang atau kesempatan.
A-aakh! A-Aoiiii !!”
Kehehehe.. Uruha.. You’re such a beautiful neko ne~” ujar Aoi lagi dengan nada yang lebih seduktif. Kini tangannya berusaha bermain dan memijat manhood milik si ‘kucing jejadian’ itu. Pijatannya semakin terasa kuat seiring nafsunya yang semakin membuncah.
Uuuuunghh.. A-aaaaahh.. Hiks…”
Eh ??” mata Aoi menangkap sebulir bening yang meluncur indah dari mata Uruha, “Kamu.. menangis, Uruha ?” tanya Aoi mengusap air amat yang mengalir di sudut mata Uruha.
Namun Aoi lebih memilih untuk tak mengacuhkan tangisan Uruha. Tubuh dan pikirannya sudah tak kuasa menahan nafsunya saat ini.Jari-jari liarnya terus membelai setiap inchi lekuk tubuh indah Uruha. Tak pernah. Tak pernah sedetikpun Aoi pernah melihat apalagi menyentuh tubuh seseorang sampai sevulgar ini. Betapa beruntungnya Aoi.. Sekali melihat dan menyentuh, ia langsung mendapatkan makhluk seperti Uruha.
Ahh… hhhnggg.. baru mengerti aku sekarang…. Hhh.. betapa teman-teman sekantorku benar-benar menyukai.. aahnggg.. hal seperti ini….” Erang Aoi dengan terus memasuki hole milik Uruha yang semakin ketat.
“A-aaah.. i-ittai yo, Aoi….. Hhh.. hhh.. Ittai~~~ hiks..”
“Uruha… bersabarlah.. sebentar lagi aku.. akh ! akan mencapai puncaknya !”
Memang, beberapa menit kemudian kedua orang yang sedang beradegan panas itu mencapai titik yang ditunggu-tunggu. Aoi spilt over his liquid into Uruha’s hole… The bed-sheet around them was being wet. Their load moan echoed in the dim apato room. Aoi kissed and licked Uruha’ full lips soon to shut him up then lied down beside the tired- Uruha (go-gomen pake eigo, aku rada ga kuat kalo harus pake Indonesian)
Mmmhhh… Uruha~~~ Your taste like strawberry…”
Mmmhngghh.. ya-yamero ! Onegai~~~” Uruha mulai memberontak dengan berusaha melepaskan cengkaraman tangan Aoi dari pergelangan tangan kanannya. Aoi khawatir bila Uruha akan berlari keluar nantinya, bukan karena Uruha akan membeberkan semua kejadian barusan pada semua orang, tapi ia hanya tak ingin kehilangan Uruha walau hanya sekejap mata. Hatinya telah terpaut erat pada sosok cantik yang tiba-tiba datang ke dalam kehidupannya itu..
Uruha… Percayalah aku tak akan menyakitimu, sayang.. Jangan menangis lagi, ya. Nakuna, baby…”
Hiks.. Aoi~ daikirai~”

::::::::::


Pernahkah aku bilang padamu, kalau aku sering menggolongkan diriku sendiri ke dalam jajaran manusia yang seratus persen memercayai logika ? Pernah, dan kau harus tahu. Tapi itu tidak penting lagi.. Uruha, kucingku atau errrr… manusia aneh peliharaanku, telah merubah tabiatku sendiri sejak pagi yang terkutuk itu. Pikiranku jadi agak kacau, apalagi kalau aku sering melihat Uruha yang tiba-tiba menghilang berubah wujud menjadi kucing hitam. Atau dari wujud kucingnya itu menjadi sesosok manusia seksi itu lagi, tanpa pakaian, dan selalu tidur di tempat tidurku. Aku benar-benar melihat kegilaan dari jarak dekat dan dalam waktu begitu cepat. Dan karena itulah aku akan meminta pertanggung-jawaban dari si penjual hewan peliharaan brengsek itu sekarang.
Tepat di depan trotoar pet shop Keiyuu aku memarkir Jaguar-ku dan bergegas ke dalam. Lonceng kecil di atas pintu masuk berdenting berisik ketika aku membuka pintu dengan terburu-buru.
“Keiyuu ! Keiyuu ! Di mana kau ?!” kupanggil si pemilik toko tanpa ragu-ragu, kebetulan tokonya sedang sepi. Bahkan Cuma ada aku di sini.
“Kei !! Aku tahu kau di dalam !”
Aku mendengar suara langkah kaki mendekat dengan cepat dan sedikit tergesa ke ruangan depan tempatku berteriak. Itu Keiyuu.
“Hei Keiyuu, jangan membuatku menunggu terlalu lama ! Apa kau pikir aku bisa tahan denga--…” segera kuputus rentetan omelanku begitu kulihat seorang yang jangkung keluar dari pintu ruangan dalam, dia bukan Keiyuu.
“Ah.. Maaf.. Apa ada yang salah dengan toko ini ? Mungkin saya bisa membantumu sedikit, tuan ?” tanya pria jangkung itu dengan suara yang berat. Dari mimiknya ia terlihat bingung.
“Huh… maaf.. sekarang aku ingin bicara dengan pemilik toko ini, apa dia ada di sini ?”
“Tentu saja ada. Kau ingin bicara dengannya ?” aku mengangguk lemas, “Baiklah, sebentar aku panggilkan.” Pria itu kembali melesat ke dalam. Entah siapa dia itu, aku baru melihatnya sekali ini. Seingatku Keiyuu tak pernah mau memerkejakan seseorang selain dirinya sendiri dan Nao si dokter hewan.
Setelah beberapa saat aku mendengar percakapan di dalam, orang yang paling ingin aku sembur keluar juga dari persembunyiannya.
“Ah ! Akhirnya, kau…” sontak aku bangkit berdiri.
“Sssshh. Aku mengerti. Semua terbaca dari raut wajahmu. Sebaiknya kita bicara di dalam saja, oke ?” ajaknya seraya menggamit tanganku ke dalam. Aku hanya ber’oh-uh’ karena bingung harus bagaimana menghadapi si Keiyuu yang sering seenaknya ini.
Segera setelah duduk di tengah ruangan dalamnya, aku mengutarakan seluruh isi hatiku selama beberapa hari ini setelah bertemu dengan Uruha. Jawabannya sama sekali di luar dugaanku. Tak ada raut kaget atau semacamnya tersirat di wajah baby-facenya itu.
“Hm.. Aku mengerti.” Gumamnya. Apanya yang ia mengeti ?! Tentu saja ia tidak mengerti hal yang menimpaku ini kan !
“Lalu bagaimana sikapnya ? Apa kau menyukainya ?”
“Keiyuu. Ini bukan soal suka atau tidak. Sekarang aku benar-benar dirundung stress karena melihat hal teraneh dalam hidupku !!”
“Tenang, Aoi-shi..Aku mengerti hal seperti ini memang bukan hal biasa yang bisa dibicarakan dengan tenang sambil minum kopi. Hmm.. tapi.. kalau aku lihat dari raut wajahmu, sepertinya kau sedikit tergila-gila dengan anak itu ?” tebak Keiyuu. Jari-jarinya sibuk mengelus-elus dagunya dengan menatap Aoi dengan sangsi, “Ah tidak ! Bahkan kau sangat tergila-gila dengannya !”
“Hei, apa-apaan kau ini ?? Bukannya memberi solusi atau apa kek, malah menuduh yang tidak jelas seperti itu.”
“Tuh kan ! Bahkan wajahmu memerah sekarang ! Nada bicaramu juga beda setiap kali kau bicara soal si anak kucing itu. Sudahlah, Aoi.. Mengaku saja.. Aku sudah lihat wujud manusia si kucing hitam itu. Wajar saja kalau kau suka… =,=”
“Cih.. Kalau kau komentar lebih dari ini kuhajar kau.”
“Hahahaha, sabar, Oyaji-san…”
“Diam kau.”
“Aoi”
“Hm ??”
“Aku lupa memberi satu pertanyaan untukmu”
“Nan desu ka ?!”
“Apa kamu.. sudah melakukan ‘sesuatu’ dengan anak itu ?” Tanya Keiyuu dengan membentuk jari tengah dan telunjuknya seperti tanda kutip dan mengatup-atupkannya di samping kepalanya.
Sejenak Aoi mengernyit tak mengerti, merasakan sesuatu yang tidak enak di antara deretan kata-kata pertanyaan Keiyuu barusan.
“’S-sesuatu’ katamu ?”
“Iya. Yaaah.. kaena dia cantik dan berbeda dari makhluk biasa yang kita lihat di bumi, jadi kupikir kau mungkin.. errrr… yah, ‘menikmatinya’ sebentar selama ini?” Keiyuu melongok-longok ke arah lain, seolah takut ada seseorang yang mendengarnya.
“K-kalau aku jawab jujur bagaimana ?” tanpa sadar Aoi memelankan volume suaranya.
“Setiap perkataan dari mulut kita haruslah jujur. Tak perlu kau tanyakan lagi hal klasik seperti itu. Baka.”
Dalam keadaan biasa, mungkin Aoi bakal naik darah kalau dikatai seperti barusan, tapi pikirannya sekarang sedang sibuk merangkai kata-kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan Keiyuu yang tidak simple itu.
“Aoi ??”
Lima detik kemudian, setelah mengehela napas panjang, setelah menelan ludah sebayak tiga kali, Aoi menjawab.. “Ya, Keiyuu. Aku melakukannya. Lusa lalu. Lalu sekarang bagaimana ?”
Tiba-tiba Keiyuu terdiam di kursinya, menatap nanar ke arah Aoi yang melongo tak jelas karena ditatap seperti itu, “Kei ? Kei ??!” Aoi mengayun-ayunkan telapaknya di depan wajah sahabatnya yang sedang melamun atau kerasukan itu.
“AOI !! Kau melakukannya ??! Dasar Baka oyaji-sama !! Kau sudah menyelamatkan dunia !! Aku sangat berterima kasih padamu, Aoi !”
“HAAAH ?? Apa-apaan ??”
“Sssht ssst !! Jangan keras-keras ! Bagus, Aoi ! Aku senang kau melakukannya !” jerit Keiyuu setengah berbisik sambil membungkukkan tubuh Aoi mendekat agar suara mereka tak terdengar ke mana-mana.
“Me-memangnya kenapa sih ? Aku.. kupikir aku telah melakukan sesuatu yang buruk !!”
“Tidak >,< tepat seperti yang aku kira kau pasti melakukannya ! Dugaanku tidak melesat kan, jadi tidak salah aku berikan kucing itu padamu tempo hari !”
“Keiyuu, kumohon tenanglah dulu, kau membuatku bingung kalau hanya kegirangan sendiri seperti ini.”
“Jadi begini, Aoi.. dia itu makhluk.. yah.. makhluk dari dimensi lain yang sengaja datang ke bumi ini untuk sebuah misi..” jelas Keiyuu dengan gaya sok misterius. Sama sekali tidak cocok dengan penbawaannya yang imut-imut.
“Misi ? Misi apa ?” tanyaku penasaran.
“Dia diperintahkan untuk sesegera mungkin menghancurkan bumi ! Kau tak akan mengerti kekuatannya yang sebenarnya sebelum melihat sendiri. Tapi kuharap kita tidak akan pernah melihatnya, Aoi… Karena kau telah melakukan sesuatu yang penting untuk mencegahnya.”
Aku tertegun sejenak. ‘Sesuatu yang penting’ apaan ?
“Ya.. makhluk aneh. Ia hanya bisa ‘dirusak’ dengan minuman beralkohol dan sex !!!”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar