Senin, 28 November 2011

P.A.L.E [FANFIC URUHA X Mr. SEXY(lol)]


P.A.L.E   [FANFIC URUHA X Mr. SEXY(lol)]

Author: Tanoshiima Daitera

Fandom: Uruha!seme X Mr. Sexy (You can guess it for sure. Happy guessing !)

Genre: fluff

Part(s) : oneshot

Ongaku: Michael Buble – Haven’t Met You Yet. Maliq N D’Essentials – Terdiam

Note: Nothing special. Just for fun kok, daripada pada bosen mending coba baca ini aja (weks..). Kalo jelek ya udah haha. Inspirasi dari ide dialog praktek pelajaran bahasa inggris temen sekelas hehehe. Btw makin suka uke!Aoi gara-gara Fida yang demen kasih rekomen macem-macem buat ff uke!Aoi dan Mbak Kei Kyuuketsuki^^ I would like to thank you for the all recommendation. 

Disclaimer:  PSC for chara and me for storyline, Rizky and Iskandar for the idea --_____- you guys so good for this one haha.




Dingin, ya.. tapi…

:::::::::

            “Oh great…” desah Uruha sambil menyandarkan punggungnya ke tiang halte bus.
            Rintik gerimis yang tadi pelan kini semakin deras menghujam tanah Kota Kanagawa. Airnya menggenang di konblok merah trotoar sekitar halte itu, bercipratan ke mana-mana terbentur air hujan yang baru turun. Beruntung bagi Uruha karena hujan ini baru semakin deras  tepat saat ia sampai di bawah lindungan atap halte. Dan lagi bus yang ia tunggu menuju kampusnya belum datang, paling tidak ia bisa santai sedikit.
            “Yaaah kok hujan sih…” gerutu Uruha dengan menengok ke arah langit yang abu-abu.
            “Kenapa.. kamu benci hujan, ya ?”
            Uruha langsung menoleh cepat ke arah datangnya suara yang tiba-tiba menyahutnya itu. Baru ia sadari ada orang lain di halte tempatnya bernaung.
             “Aah.. maaf, tampaknya aku membuatmu terkejut ?” kata orang berambut silver panjang itu sambil menggaruk belakang kepalanya. Gesturnya seperti orang salah tingkah. Uruha tersenyum simpul tanpa mengalihkan pandangannya, “Haha.. tidak apa-apa. Aku hanya baru sadar aku tidak sendirian di sini..”
            “Daripada melamun di situ, lebih baik kamu duduk di sini ‘kan ?” Ajak pria itu seraya menepuk bangku halte yang kosong di sebelahnya.
            “Benar juga.. aku duduk situ, ya.” Jawab Uruha dengan menempatkan dirinya di bangku itu.
            “Hujannya deras.. “
            “Ya” sahut Uruha dengan menoleh sedikit ke arah pria itu, “ngomong-ngomong.. kamu sudah daritadi di sini ?” Uruha memulai pembicaraan. Dari paras pria itu, ia bisa menebak umurnya yang tidak begitu jauh darinya.
            “Begitulah. Baju dan rambutmu sudah sedikit basah tuh…”
            “Aah.. iya. Tadi aku sedikit kehujanan. hehe” Uruha mengusap-usap rambut coklat tembaganya yang lembab.
            Lalu hening.
            Suara hujan dan suara bising kendaraan yang lewat menyelubungi keheningan di tengah-tengah mereka berdua yang sedang berteduh di bawah halte. Entah apa yang Uruha pikirkan. Biasanya sebisa mungkin ia menghindari orang asing, apalagi yang penampilannya eksentrik seperti pria yang duduk di sebelahnya ini. Tentu saja. Rambut perak panjang –yang agak berantakan- diikat di puncak kepalanya pasti menjadi daya tarik utama dari orang ini. Yang pertama kali orang lain lihat dari orang ini pasti rambutnya, lalu kedua wajahnya.. Ah tidak, mungkin rambut aneh itu nomor dua setelah wajahnya. Parasnya cukup cantik untuk disebut sebagai ‘seorang pria’. Itu menurut Uruha. Tapi tunggu. Sepertinya ada yang aneh.. Kenapa jadi mengagumi wajahnya yang tidak biasa-biasa saja itu ? ‘Mungkin karena cantik aku jadi nyaman di dekatnya.’ Pikir Uruha. Secara tidak sengaja ia mengembangkan sebuah senyuman.
“Aduh.. kenapa kesannya jadi seperti gay begini sih ?”
            “Hah, apa ?” pria itu menoleh mendengar suara Uruha.
            “EEH ?? A-aa.. ti-tidak ada apa-apa, sungguh. Hahaha. A-aku Cuma sedang memikirkan tugas-tugasku dikampus. hehehe” aduh keceplosan…dia dengar tidak ya.. batin Uruha, “A-anoo.. kamu.. barusan kamu dengar apa yang aku katakan ?”
            “He ? Soal tugasmu di kampus ?”
            “Haa..bu-bukan ! Yang sebelum itu.”
            “Tidak kok… Tenang saja.” Jawabnya santai. Ia membetulkan ikatan rambutnya sambil tetap memandangiku yang sedikit panik.
            “O-oh.. begitu ya. Haha. Baguslah, ah maksudku..”
            “Sudahlah.. tidak apa-apa. Aku mengerti kok. Kamu ini mudah gugup, ya ? hihi” ah.. dia terkikik. Aduh manisnya.. pikiran Uruha menjadi terbang melayang-layang melihat pria itu tertawa kecil akibat tingkahnya.
           

            ::::: URUHA side

            Aduh.. rambut dan bajuku jadi lembab begini gara-gara hujan. Bahkan bis yang aku tunggu pun belum menampakkan batang hidungnya sama sekali sejak aku duduk di halte ini. Tumben.. Eh. Omong-omong bis ‘kan tidak punya hidung. Hahaha. Hmm.. aku jadi melantur sendiri deh. Lagipula orang eksentrik di sebelahku ini diam juga daritadi…
            “Ehem.. uhuk uhuk.”
            “Eh ? kamu lagi batuk, ya ?” tanyaku polos.
            “Ah.. maaf. Kamu pasti takut ketularan, ya. Baiklah, aku menyingkir sedikit kalau be––“
            “Bukan, jangan ! Bukan begitu ma–– !”

            Yang kulihat cuma semburat merah yang merona di sekitar pipi pucatnya. Aku juga merasakan wajahku jadi memanas serasa direbus. Oh tidak.. Apa-apaan ?
            Tiba-tiba ia mengeluarkan suara ‘uh-oh’ dengan canggung dan kegugupan atau entah apa itu yang muncul darinya semakin menjadi, “T-t-tanganmu.. d-dingin sekali.. Kamu.. kedinginan ?” tanyanya pelan.
            Oh Tuhan. Ya. Aku barusan, dengan sedikit kesadaran, menarik pergelangan tangannya ketika ia berusaha bergeser menjauh dariku. Crap..
            “Hee.. m-maafkan aku.” Aku melepas pelan-pelan tangannya dariku. Aku masih sedikit terpana oleh semu merah yang masih bersemi di  wajahnya, “Iya aku kedinginan. Sedikit hehe. M-makanya kalau saling menjauh ‘kan akan jadi semakin dingin.” Jawabku sekenanya. Apa itu jawaban yang tepat ? Aku tidak mau tahu haha.
            “I-iya juga, ya..”  hanya itu jawabnya. Lalu ia diam. Diam sambil menatap sepatunya yang bersembunyi di bawah kolong kursi halte. Tak dapat kulihat lagi wajahnya kalau ia menunduk begitu, rambut silvernya yang menjuntai itu begitu menyusahkan karena menutupi sebagian wajahnya.
            Dia diam, aku juga diam. Aku tidak mau banyak bicara lagi, nanti orang ini malah mengira yang tidak-tidak padaku. Padahal yang tidak-tidak itulah yang aku pikirkan dari tadi hihi.
            Kulihat jam tanganku. Sudah pukul 02.00 pm. Setengah jam lagi waktunya masuk jam kuliah. Hujan juga masih turun walaupun tidak sederas yang tadi. Walaupun aku merasa nyaman di sini, tapi kalau ingat dosen filsafatku yang berkacamata setebal dua senti dan setengah botak itu tetap saja rasanya gelisah. Makanya aku cuma sedikit berharap bis jurusan kampusku segera datang menjemput. Eh ? Sedikit ? Yah.. aku masih ingin mengobrol berdua dengan pria eksentrik yang sekarang sedang tekun membaca buku The Theory Between An Egg And  Chicken. Heheh, jangan tanya aku itu buku apa. Selera bacanya sungguh di luar kebiasaan.  Ingin rasanya aku melontarkan segala pertanyaan tentang dirinya, apa saja, hobinya, salonnya untuk membuat rambut seperti itu, makanan kesukaannya, rumahnya, dan hei ! Bahkan setelah lama berduaan seperti ini pun aku belum tahu namanya. Sungguh ini kecerobohan besar, Uruha... Tidakkah ia merasakan getaranku pada dirinya ? Aku duduk terdiam sambil sesekali mencuri pandang  begini tanpa tahu namanya ?
            “Uhm.. maaf.. sebelumnya–“ suaraku berhasil mebuatnya menutup bukunya sambil menoleh kepadaku tapi ia seperti melihat sesuatu di belakangku.
            “Ah.. akhirnya bisku datang juga..” desahnya lega. Dan kelegaannya bertambah seiring semakin munculnya kegelisahanku.
            “Eh, ta-tapi tapi. Aku ‘kan–“ seruku saat dia terburu-buru menarik risleting tasnya untuk menutupnya kembali.
            “Ma-maaf, ya. Sebenarnya aku sedang terburu-buru. Aku pergi dulu, semoga suatu saat nanti kita bisa ketemu lagi. Jyaaa !” ia menjejakkan kakinya ke trotoar yang masih tergenang air hujan dan menggunakan tas hitamnya sebagai payung untuk melindungi kepalaya dari rintik hujan kecil yang belum juga berhenti.
            “Ah hei !!” seruanku sepertinya tidak masuk lagi ke telinganya. Bagaimana bisa ia dengar dengan deru mesin bis yang kuat dan kondisinya yang terburu-ruru seperti itu. Aku hanya mematung memandang pasrah bis yang telah ‘menculik’ dirinya itu. Oh.. kenapa aku jadi begitu kesal pada sebuah bis ? WEIRD. 
            Oke. Baiklah, Uruha. Tuhan sekarang memberi tahuku alasan kenapa aku tidak pandai dalam urusan cinta dengan mengirimkan pria eksentrik tadi ke halte bis. Aku terlalu CEROBOH. Sekarang.. aku tak tahu lagi bagaimana caranya agar dapat bertemu lagi dengannya. Sebenarnya tak perlu menanyakan pertanyaan klise macam begitu kalau aku punya nomor ponselnya. Aku juga tak perlu gelisah seperti tadi kalau aku dapat alamat e-mailnya. Dan aku akan lebih gembira lagi kalau aku tahu di mana rumahnya. Tapi jangankan semua itu, bahkan namanya pun aku terlambat menanyakannya. Sekarang pucatlah wajahku.
            “Huuuh….” Kini aku sendirian di halte yang dingin ini. Udara jadi menusuk kalau tidak ada dia huhu. Aku menutupi wajahku dengan kedua telapak tanganku dan memicingkan sudut mataku ke bangku tempatnya duduk tadi. Ah.. ada sesuatu tergeletak di situ. Tapi apa ?
            Perlahan kujauhkan telapak tanganku dari wajahku dan mengambil seuatu yang teronggok sendirian di bangku sebelahku itu..

            The Theory Between An Egg And A Chicken….”
           
            Oh tidak.. bukunya yang aneh ini tertinggal di sini. Setelah melihat-lihat sampulnya yang bergambar ayam dan sebuah telur yang bertengger di atas kepalanya, kubuka lembar pertama. Tidak ada tulisan apa-apa di situ kecuali judulnya yang tadi. Kemudian kubuka lembar kedua, sambil sedikit berharap menemukan sesuatu yang aku dambakkan dari tadi. Oh well, masih pengulangan judul lagi..lalu pernyataan buku ini untuk putera baptis si pengarang. Dan di bagian bawah pojok halaman itu kulihat sebuah tulisan tangan yang indah dan rapi dengan tinta hitam.

            Shiroyama Aoi

           
            Wajahku yang semula pucat berubah menjadi cerah lagi. Bahkan selanjutnya senyumku tidak hilang-hilang setelah aku dimarahi dan tidak diijinkan masuk kelas oleh dosenku yang setengah botak itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar